Team Yang Kompak.

Standard

Kekompakan team  merupakan salah satu kunci penting dalam mencapai kesuksesan. Kelihatannya setiap orang tahu itu. Dan tentu saja setiap orang selalu berusaha untuk meningkatkan kekompakan teamnya dengan berbagai usaha. Walaupun pada kenyataannya memang tidak semua orang berhasil mencapainya dengan mudah.

Suatu hari saya sedang berjalan-jalan ke pasar. Memeriksa apa yang terjadi dengan produk-produk yang saya pasarkan di pasar. Tentu saja merupakan salah satu bagian dari pekerjaan saya sebagai seorang pemasar. Saat itu kebetulan saya melihat produk-produk saya banyak yang kosong. Habis terjual namun tidak cepat diisi kembali. Saya membayangkan entah berapa rupiah saya harus kehilangan penjualan saya atas terjadinya kekosongan produk-produk itu. Dan menyedihkannya itu terjadi di beberapa toko yang saya kunjungi. Sayapun mulai mencari tahu mengapa hal itu bisa terjadi.

Mirip menelusuri selang air yang mampet. Dimanakah letak sumbatan ataupun kebocorannya? Tentu harus menelusuri alirannya mulai dari hulu ke hilir. Mulai dari apakah Salesman sudah berkunjung dan mengambil order,  hingga penelusuran stock dan pengiriman barang  baik dari gudang di pabrik  ke  gudang distributor, dari distributor ke toko, hingga dari gudang toko ke rak display.  Sambil menelusuri satu per satu, saya teringat bahwa mungkin lebih mudah buat saya untuk menginformasikan kepada teman  di team saya yang memang bertanggungjawab  untuk menangani outlet yang sedang saya kunjungi itu.

Walaupun kelihatannya belum mengetahui jawaban pastinya, teman saya itu menjawab dengan sopan.  Ia menyampaikan beberapa kemungkinan penyebabnya yang akan ia telusuri untuk segera melakukan perbaikan. Jawaban yang sangat baik dan santun. Saya cukup senang dan yakin bahwa ia akan segera mem’follow-up’ keluhan saya itu. Sayapun memberikan beberapa petunjuk apa yang sebaiknya ia lakukan untuk mempercepat penyelesaian masalah. Teman saya yang baik itu menjawab pesan saya dengan kalimat :

“Terimakasih atas perhatiannya terhadap team kami, Bu. Kami akan perbaiki agar lebih baik lagi..”. Jawaban yang sangat santun, namun membuat saya nyaris meloncat seperti tersengat lebah. Seketika saya  mengendus gejala yang kurang beres. Penggunaan kata ‘kami’ dan bukan ‘kita’ memberi indikasi buruk kepada saya. Ketika bagian team kita berpikir bahwa kita adalah pihak ketiga yang berada di luar team, maka seketika itu kita perlu mempertanyakan keutuhan team kita.

Maka sayapun membalas dengan bercanda “Teamnya siapa? Memang nggak satu team dengan saya ya?”.  Yang segera dijawabnya dengan mengirim Emoticon “Smile” kepada saya. Saya yakin ia paham apa yang saya maksudkan.  Bahwa kami adalah satu team yang sama,bukan dua team yang berbeda. Namun demikian persitiwa itu membuat saya merenungkan arti kekompakan dari sebuah team. Dan saya harus mengambil pelajaran darinya untuk lebih meningkatkan kekompakan team saya di hari berikutnya.

Team kecil di dalam team yang besar.

Salah satu hal yang umum terjadi di dalam sebuah team yang besar, adalah adanya team-team kecil yang menjadi sub bagian dari team besar itu. Sangat wajar dan masuk akal terutama untuk memastikan agar setiap sub pekerjaan yang dibutuhkan bisa ditangani penuh dengan lebih fokus.  Namun di sisi lain jika kefanatikan dalam sub team ini meningkat, maka nilai kebersamaan di dalam team besar terancam mengendor.  Jadi untuk mengatasinya kelihatannya saya perlu mengontrol keseimbangan antara team kecil dan team besar dan memastikan setiap anggota team adalah bagian dari team besar yang memilki objective  besar yang sama.

Lebih Banyak “Kita” daripada “Kami”.

Penggunaan kata ‘kami’  dalam percakapan team, sebenarnya membuat hubungan “lue-gua’’ meningkat. Karena orang yang diajak bicara tidak merasa dikutsertakan. Kelihatannya saya harus lebih banyak lagi meng’encourage’ team agar lebih banyak menggunakan kata ‘kita’ untuk menggantikan kata ‘kami’. Dengan demikian maka rasa kepemilikan atas tanggungjawab,hak dan kewajiban setiap anggota teampun ikut meningkat. Tidak ada lagi batasan  bahwa  “yang ini tanggung jawab gua, yang ono tanggung jawab elo…”

Work In Silo Mentality

Meningkatnya fanatisme sub team, dengan sendirinya akan memicu setiap sub team untuk bekerja sendiri-sendiri. Bekerja untuk kejayaan sub team dan bukan untuk kejayaan team besar. Sharing informasi dan usaha tolong menolongpun berkurang. Everybody works in Silo!. Tak perduli rekannya sedang merencanakan apa dan tak tahu sedang  mengerjakan apa. Yang penting dirinya sendiri dan sub team itu berjaya. Dalam hal ini saya pikir saya harus lebih meningkatkan traffic komunikasi antar sub team. Berusaha sekerasnya untuk menghindarkan jauh-jauh mental ‘work in silo’ yang  cenderung menyimpan attitude kerja menyendiri dan hanya untuk kepentingan sub grup sendiri.

Memikirkan itu maka sayapun segera mengirim Emoticon “Big Smile” kepada rekan team saya. Everyday is a learning day!

 Sumber gambar : chatsymbols.net

4 responses »

  1. Kekompakan team merupakan salah satu kunci penting dalam mencapai kesuksesan.
    maksudnya kesuksesan dalam team Ni?
    lalu bagaimana caranya membentuk kekompakan team itu?
    padahal menyatukan pendapat orang yang berbeda itu susah sekali..

    • ya itulah pe er yang sedang aku kerjakan Tin.. Mencoba menjaganya dengan menyeimbangkan team kecil dengan team besar, mengganti lebih banyak kata kami dengan kita dan meningkatkan traffik komunikasi..Thanks ya Tin. Apa kabar?

  2. hmmm agak sulit diresap untuk saya yang bukan berlatar marketing, tapi mungkin saya bisa mengandaikannya seperti simpul laba-laba. Setiap benang berfungsi membuat jaringan yang lebih besar, dna meskipun ada beberapa yang rusak memang fungsi jaring laba-laba masih bisa dijalankan. Tapi tentunya dengan ada kerusakan di beberapa tempat, bisa saja hasil tangkapan melarikan diri dari lubang itu.
    Sulit memang ya mbak

  3. Hehehhe…., kekosongan pajangan adalah kehilangan kesempatan menjual. Di sisi pengecer, pasti menjadi perhatian utama, jangan sampai konsumen beralih ke kompetitor. Pada konsidi ini terkadang saling menyalahkan, bisa karena Service Level pemasok yang kurang ataupun bagian pembelian di toko yang kurang tanggap. Saya lebih setuju dengan definisi dengan “Pengecer dan pemasok adalah satu tim besar”. Bukankah TEAM adalah Together Everyone Achive More ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s