Urban Farming: Memanfaatkan Limbah Dapur Yang Ada.

Standard

Urban Farming 1Belakangan ini saya lagi semangat menanam sayur-sayuran di halaman rumah saya yang sangat sempit. Gara-garanya adalah saat membersihkan kangkung. Saya memotong pangkal batang tanaman ini  beserta akarnya hendak saya buang. Yang saya ambil hanya daun dan batangnya yang masih muda saja. Saat akan dibuang, tiba-tiba melintas di kepala saya, mengapa harus dibuang? Bukankah sebenarnya akar dan pangkal kangkung ini bisa saya tanam lagi? Barangkali bisa hidup. Dan jika hidup, jangan-jangan sebulan lagi sudah bisa saya panen kembali untuk dimasak dijadikan  Ca Kangkung.  Iseng-iseng batang dan akar kangkung itupun saya tancapkan di pot. Lalu saya siram setiap hari. Eh..benar saja..kangkung itu tumbuh tunas dengan baik. Sebentar lagi tentu daunnya terlihat.

Karena kelihatan sehat, lalu saya pindahkan ke polybag.  Seminggu berlalu, kangkung itu rupanya tumbuh dengan serius. Daunnya mulai berkembang beberapa helai. Senangnya hati saya. Karena sekarang sudah kelihatan bahwa saya bakalan punya sayuran segar petik langsung dari pohon dalam waktu dua minggu ke  depan. Walaupun jumlahnya masih sedikit sih. Hanya 7 polybag. Tapi lumayan…

Minggu lalu saya menambah lagi tanaman kangkung baru.  Beberapa belas kantong. Sama, diambil dari limbah dapur saat menyiangi sayuran juga. Mulai tumbuh daun, mengejar ketertinggalannya dari kakak-kakaknya yang ditanam seminggu sebelumnya. Anak saya yang melihat betapa segarnya tanaman itu berkata, “Aduuh..Ma. Aku kok rasanya seperti menjadi ulat ya ? Nyam..nyam..nyam…. enak banget daun kangkungnya” kata anak saya ngiler.  Ia pun rajin membantu menyiram tanaman itu setiap hari.

Tadi pagi saya juga menanam potongan akar kangkung lagi. Saya tempatkan di polybag lagi . Wah..setiap akhir pekan saya menanam potongan akar kangkung. Rasanya senang sekali. Dan saya berencana akan terus menanam sampai pekarangan rumah saya yang sempit ini penuh sesak dengan tanaman sayuran. Mumpung lagi semangat. Karena semangat datangnya tidak terus menerus. Jadi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Selain potongan kangkung, saya juga coba menanam potongan akar daun bawang, serpihan sereh yang kecil dan tidak terpakai, potongan wortel, potongan talas,  potongan akar ketumbar dan sebagainya. Walaupun ternyata..Tidak semuanya sukses juga sih.  Misalnya pohon ketumbar yang sudah sempat hidup dan segar beberapa hari..tiba tiba membusuk. Mungkin kebanyakan air *sedihnya. Tidak apa-apa. Namanya juga mencoba dan berusaha ya. Lain kali saya akan coba lagi.  Terus..itu potongan wortel kira-kira akan bisa tumbuh dan menghasilkan wortel lagi  tidak ya? Tidak tahulah.. pokoknya saya coba saja dulu. Soal hasil nanti belakangan saja. tapi yang jelas daun bawang saya hidup dengan baik. Demikian juga pohon serehnya. Hidup dengan baik.

Judulnya ini kan memanfaatkan limbah dapur untuk dibudidayakan di halaman rumah di daerah perkotaan yang umumnya berlahan sempit. Urban farming! Begitu ceritanya, biar agak sedikit keren.

Sebenarnya kalau diingat-ingat ya. Jaman dulu kan ada tuh proggram Ibu-Ibu PKK yang namanya Dapur Hidup dan Apotik Hidup di pekarangan. Itu sebenarnya proggram amat bagus menurut saya.  Coba saja dipikir-pikir. Apa jadinya jika saya menanam sisa-sisa sayuran limbah dapur ini terus menerus? Setiap kali mau masak kangkung, punya limbahnya lalu saya tanam? Demikian setiap kali beli sayuran di tukang sayur. Tanam lagi dan tanam lagi? Saya rasa suatu saat nanti barangkali saya akan bisa mencukupi kebutuhan dapur saya sendiri. Bahkan kalau lebih rajin lagi, barangkali bisa juga ikut menopang kebutuhan dapur tetangga he he he.  Ya kan? Karena hasilnya bisa dibagi-bagikan juga kepada tetangga terdekat kita. Sayuran segar, hasil tanaman sendiri dan bebas pestisida. Lumayan mengirit uang belanja dapur.

Nah..point saya itu sebenarnya di sana. Beberapa kali saya pernah dicurhatin kenalan yang mengeluhkan masalah keuangan keluarganya. Harga barang-barang kebutuhan hidup melambung naik, sementara penghasilan suaminya segitu-segitu saja. Saat demikian, sebenarnya jawaban praktis saya hanya dua. Pertama, ya ikut bekerja bantuin suami nyari tambahan uang. Atau yang kedua, jika tidak mau ikut bekerja, terima saja uang yang diberikan suami apa adanya tanpa mengeluh, lalu cari akal bagaimana mengoptimalkannya. Salah satunya adalah dengan rajin-rajin sedikitlah memanfaatkan limbah dapur dan menjadikannya Dapur Hidup dan Apotik Hidup.

Tapi terus mungkin ada yang protes. “Tapi saya nggak punya lahan!” . Ya, benar. Namanya tinggal di perkotaan ya…kecuali kita super kaya, rasanya semua orang juga tinggal di rumah yang berhalaman super sempit. Pada tidak punya lahan yang luas. Tapi saya pikir kalau memang niat menanam, di tempat sempit sekalipun, tetap saja kegiatan menanam bisa dilakukan. Entah dengan memanfaatkan pot-pot, polybag atau bahkan botol bekas atau malah bekas gelas gelas mineralpun bisa dimanfaatkan, diisi dengan tanaman dan digantung-gantung. Sederhananya… jika kita lahan kita saking sempitnya hanya cukup untuk menanam satu batang pohon cabe saja, setidaknya  saat pohon cabe ini berbuah, untuk beberapa  hari kita mungkin tak perlu mengeluarkan duit buat beli cabe. Cukup petik dari halaman. Lumayan irit kan? Saya rasa sesempit-sempitnya rumah kontrakanpun tetap lho masih bisa menempatkan satu pot tanaman cabe saja.

Nah bagaimana kalau ternyata di halaman sempit kita itu ternyata muat untuk ditempatkan 2 batang pohon cabe? Atau muat untuk meletakkan satu batang cabe dan satu batang tomat? Atau satu batang pohon cabe, satu batang pohon tomat dan satu batang pohon kemangi? Dan seterusnya. Ha ha ..

Berikutnya tentu ada yang menanyakan mengapa menggunakan wadah plastik? Misalnya pot plastik, polybag, bekas air mineral , bekas botol minuman dan sebagainya? Yang mana kita tahu bahwa plastik tidak ramah lingkungan?. Saya rasa untuk wadah kita bisa menggunakan apapun. Lebih baik pot tanah. Tetapi jika tidak memungkinkan wadah plastik juga tidak apa-apa. Karena justru,  jika kita menggunakan botol atau gelas plastik bekas, sesungguhnya kita sudah ikut mendaur ulang penggunaan plastik dan mencegahnya mencemari lingkungan lebih jauh. Tetapi memanfaatkannya guna keperluan penghijauan. Demikian juga dengan plastik polybag. Polybag untuk tanaman itu dibuat dari plastik bekas yang didaur ulang. Kita bisa memanfaatkannya. Juga tetap bisa menggunakannya kembali bahkan setelah sayuranya kita petik. Jika plastik rusak, sebaiknya dikumpulkan kembali dan diberikan kepada pemulung plastik yang mengumpulkannya ke pengepul  guna didaur ulang kembali.

Yuk, ikut saya mulai memanfaatkan limbah sayuran!. Kita ber-urban farming- ria, walaupun mulai dari sebatang dua batang tanaman sayuran dulu. Tidak apa-apa. Kita bikin Dapur Hidup.

27 responses »

  1. Keren mbaak..!!
    Saya udah lama banget kepikiran kayak gitu tapi kelamaan sebatas niat. Hehee..😀
    Mudah2an postingan mbak bisa bikin saya segera terpacu untuk merealisasikannya yaa..🙂

  2. Benar juga ya Mbak Dani, kalau saja setiap orang mau menanam, dan tak menyerahkan semua kebutuhan sayurnya ke pasar, akan lumayan hemat anggaran rumah tangga🙂

    • Terimakasih Mbak Praditalia. Sudah beresedia berkunjung dan berkomentar. Ya.. bertanam begini sangat menyenangkan Mbak. Ayolah cepat-cepat berumah tangga kalau begitu ..biar bisa bikin Dapur Hidup…he he..

  3. Mbak Daniiii, saya mupeeeng lihat tanamannyaa. Kalo saya pernah akar kangkung langsung buang di halaman belakang tanpa ditanam. Eh tumbuh. Sempat sampe merajalela memenuhi halaman belakang rumah. Jadinya kalo mau bikin pecel, cah kangkung sampe bikin mie kangkung tinggal petik di belakang. Hihihi. Saya mupeeeng pengen tanem-tanem lagih

  4. salut 4 BM yg masih inget bagi2 tetangga. Dulu kita sering bagi2 ya krn khawatir tak tmakan/tpakai. Tp saat punya kulkas, apa2 masuk ke sana kalau perlu buat persediaan seumur hidup. Hati2 milih kangkungnya krn kangkung mampu menyerap polutan n racun di air, sedang petani/pengambil kangkung tak tahu bahayanya. Kita aja yg harus hati2. Pilih kangkung darat yg berbunga putih ut ditanam sendiri

  5. Apresiasi buat Jeng Dani, bila setiap kelg berurban farming betapa penyediaan gizi kelg tercapai, perbaikan kualitas udara pun untuk stress release yang efektif.
    Salam urban farming

  6. Pingback: Urban Farming: Lima Ribu Rupiah Yang Membahagiakan. | nimadesriandani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s