Menengok Sepintas Kesenian Rakyat Banyuwangi.

Standard

GandrungIni cerita tercecer dalam perjalanan saya ke Banyuwangi beberapa saat yang lalu. Setelah keluar dari Bandara Blimbing Sari dan melewati persawahan yang hijau penuh dengan populasi burung-burung sawah yang menarik perhatian saya, akhirnya saya memasuki kota Bayuwangi.  Hari masih pagi. Teman saya menawarkan pilihan apakah saya mau beristirahat dan sarapan pagi di Hotel sambil menunggu waktu, atau mau ikut dengannya menjemput beberapa orang teman  di Stasiun Kereta Api. Mereka baru datang dari kota-kota lain. Daripada istirahat dan ngopi-ngopi di Hotel, saya lebih memilih untuk ikut saja sambil melihat-lihat suasana.

Ketika kembali dari Stasiun kami melewati sebuah jalan yang sangat ramai. Banyak orang dan mobil parkir di sekitarnya. Terdengar suara musik traditional. Wah! Sangat kebetulan.Sayapun berhenti sejenak dan mendekati tempat keramaian itu. Rupanya ada Kesenian Jaranan, barangkali  dalam rangka memperingatai Hari ABRI.  Karena saya lihat ada banyak bapak-bapak dan ibu-ibu tentara ada di sekitar area itu dan juga duduk di bangku tamu undangan.

Ada seorang penari Gandrung sedang menari sambil bernyanyi. Saya sangat senang melihat liak liuk gerakan tarinya. Sang penari mengenakan kain merah dan selendang merah, dengan penutup dada berwarna hitam yang dihiasi ornamen etnik yang cantik.  Demikian juga mahkota kepalanya dihiasi dengan ornamen-ornamen. Ia terus menari dan menyanyi diiringi suara musik Banyuwangi yang terdengar unik di telinga saya. Kakinya selalu ditutupi dengan kaus kaki berwarna putih. Musiknya didominasi oleh suara gangsa, kendang, suling. Sangat  indah.

Ada banyak ragam Kesenian Banyuwangi.Sebagian diantaranya memiliki kemiripan dengan Kesenian Bali. Demikian pula musiknya. Sangat dinamik. Ada banyak unsur yang serupa. Barangkali karena memang bertetangga ya. Walaupun demikian banyak juga yang berbeda,sehingga saya menjadi sangat ingin tahu. Selain Gandrung yang baru saha habis beraksi, saya juga melihat ada Kesenian Barongan dengan beberapa jenis Barong.

 

 

Ketika saya sedang asyik menonton, tiba-tiba salah seorang Ibu Tentara itu mendekati saya dan memperkenalkan dirinya. Namanya Ibu Serma Dewi SH. Beliau mengajak saya ngobrol dengan ramah dan mempersilakan saya duduk di bangku undangan. Hah? tentu saja saya malu. Saya bukan siapa-siapa. Bukan undangan. Bukan tentara. Bukan pula pejabat. Saya hanya seorang rakyat yang kebetulan lewat dan tertarik mampir ingin mengetahui serta memotret-motret tentang Kesenian Banyuwangi ini.

Rupanya beliau ini adalah  Pembina Sanggar Kesenian Gempar Budoyo yang sedang manggung itu. Pantesan kok seragam pemain gamelannya loreng semua, mirip tentara. Ibu Dewi bercerita bahwa sebagai salah satu bentuk kemanunggalan ABRI dengan rakyat, mereka membina anak-anak susah dan kurang mampu agar menjadi lebih mandiri, termasuk dalam hal berkesenian. Dalam hal ini ABRI mewadahinya dalam bentuk Sanggar Kesenian. Wah..upaya yang sangat bagus dan mulia ya.  Saya merasa salut dengan upaya para Ibu dan bapak tentara ini membina rakyat yang  kurang mampu namun berbakat dalam kesenian. Kesenian Banyuwangi hidup di daerah asalnya sendiri. Tetap cemerlang di tengah bentuk kesenian tradisional yang memudar diserbu oleh perkembangan jaman yang membawa unsur-unsur peradaban lain.

Saya pikir, walau bagaimanapun gencarnya perubahan jaman dan kesenian asing  menginvasi sebuah kelompok masyarakat, namun saya sangat yakin Kesenian traditional itu akan tetap ada dan lestari, hanya  jika masyarakat pemiliknya tetap melakoninya.

Sebenarnya masih sangat ingin berdiri di situ dan menonton lebih banyak lagi.  Sayang, matahari sangat cepat naik.Sebentar lagihari menjadi siang. . Dan saya harus segera pamit karena harus segera menunaikan pekerjaan saya.

6 responses »

  1. Jadi kangen nonton tari-tarian gini. Memang Mba Dani, kesenian ga akan musnah kalo masyaraktnya masoh melakoninya dan salut buat group keseniannya yang masih mau berusaha menularkan dan melestarikan keseniannya.

  2. Trimakasih buat sampean mbak ni made … saya selaku pembina kesenian jaranan gempar budoyo
    Anak didik saya ingin sekali tampil di bali tolong di jembatani/di bantu ya mbk…saya tunggu kabar nya

    Salam pembina kesenian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s