Loofah, Sayuran Dari Pinggir Kali.

Standard

Masih cerita tentang  dunia pinggir kali. Berharap tidak bosan membacanya.

Buah Oyong.Pinggir kali merupakan tempat yang terbaik di dunia mungkin bagi puluhan jenis  mahluk hidup.  Mulai dari belalang, capung, kunang-kunang, kupu-kupu, burung, kadal, ular, biawak, bebek dan sebagainya.  Pinggir kali merupakan tempat terdapatnya sumber makanan yang berlimpah. Namun sebenarnya, pinggiran kali bukan hanya memiliki sumber makanan bagi hewan liar saja, beberapa tanaman liar yang tumbuh di sana juga sebenarnya bisa dimanfaatkan manusia untuk dimakan. Diantaranya yang saya perhatikan adalah pare liar, pucuk pepaya, biji petai cina, markisa dan ada satu lagi yang cukup menarik adalah sejenis buah Oyong  liar / gambas  yang disebut Loofah tumbuh tidak jauh dari belakang rumah saya.

Awalnya induk  tanaman Oyong  ini tumbuh di halaman belakang tempat saya menjemur pakaian. Batangnya merambat di dinding hingga ke kali . Tak pernah dirawat namun sangat subur.  Tapi buahnya jarang dimanfaatkan. Kebanyakan terbuang percuma begitu saja. Kadang-kadang  ada tukang arit rumput yang meminta  sebuah dua buah, tapi karena banyak jumlahnya, kebanyakan buahnya tumbuh  besar lalu matang dan kering sendiri. Kadang-kadang menjadi tempat tinggal serangga.  Tanaman itu kemudian terpotong oleh mesin pemotong rumput dan mati saat kami membersihkan halaman belakang & tempat jemuran.  Rupanya dari bijinya yang terbuang itu tumbuh lagi anaknya di pinggir kali.  Menjalar liar di sana dan lagi-lagi terbengkalai. Tak ada orang yang memelihara maupun memanfaatkan buahnya. Padahal kalau dipikir-pikir buahnya enak juga dimasak sup ataupun ditumis. Selain itu, secara traditional, buah ini juga dimanfaatkan untuk mengobati beberapa penyakit.

Oyong liar (Luffa cylindrica) atau yang disebut juga dengan Loofah (Chinese Okra, Vietnamese gourd) merupakan salah satu anggota keluarga pohon Timun (Cucurbitaceae).  Sangat serupa dengan Oyong  bersudut (Okra) yang umum kita temukan sehari-hari di tukang sayur.  Hanya yang ini bentuknya bulat silindris, sedangkan yang di tukang sayur bentuknya bersudut.  Namun keduanya sama-sama bisa dimakan. Dan kedua-duanya sama rasanya.  Enak. Tidak ada bedanya.  “Bisa dimakan?”. tanya anak saya.  Saya mengangguk. Anak saya melihat saya dengan pandangan tidak percaya.  “Mari kita coba !” ajak saya.

Bunganya berwarna kuning terang, dengan lima kelopak mahkota bunga. Muncul dari tangkai di mana biasanya terdapat beberapa kuntum calon bunga.  Saya melihat beberapa ekor kumbang terbang dan hinggap di bunga-bunga itu. Suaranya mendengung, memberi kehangatan pada pagi. Bentuk daunnya sama dengan bentuk daun labu siam pada umumnya, yakni berbentuk trisula tumpul. Batangnya juga merambat dan bersulur. Ada banyak sekali buah yang bergelantungan.

Lalu saya memetik tiga buah Oyong yang masih muda dan hijau. Oyong jenis ini paling enak dimasak saat masih muda, karena jika terlalu tua buahnya sudah keburu berserat dan keras.  Di beberapa tempat seratnya malah sengaja diambil untuk menggosok badan saat mandi.

17 responses »

  1. Aku suka sayur ini, seger banget kalo dibuat sayur bening campur laksa. Mbak ada satu lagi sayur dari kali yg jarang dimanfaatin orang, sayur genjer. Tapi emakku suka sekali mengolahnya, dimasak tumis taouco pedas dan rasanya enak. Hanya adekku yg gak suka, takuta makannya, dia bilang sayur genjer itu rumah katak, hahaha…

  2. Itu juga alasan peradaban manusia berawal dari tepi sungai Mbak Dani. Karena tempat itu kaya sumber penunjang kehidupan. Buah loofah itu tampak nya seperti buah timun

  3. sayur yng tumbuhnya tanpa harus perawatan,, buang bijinya ditanah, tungguh deh, dia akan nongol dan berbuah dengan sendirinya, tanpa harus perawatan khusus, dekat rumah aku dikampung, ada juga, kalau lagi ngk ada persediaan sayur di kulkas, langsung deh panennya si sayur ini🙂

  4. Kalo diliat dari gambar “tumis oyong”, ini tuh sayur yang kalau kata mama saya namanya “Timun Jepang” , gakk tau dapat nya dari mana hehehe.. Tapi enak dimakan dibuat sup + ebi + telur😀

  5. Jadi teringat waktu di pesantren….

    Terimakasih, artikel ini mengingatkanku pada masa masa seumuran Dul (anaknya Ahmad Dani). Kami bermain di sawah mencari sayuran apa saja untuk makan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s