Balinese Traditional Body Scenting.

Standard

Cara Tradisional Mewangikan Badan di Bali

Hari ini adalah Hari Banyu Pinaruh di Bali. Perayaan bagi Ilmu Pengetahuan yang  laksana air (banyu) membasuh segala bentuk kegelapan pikiran, kekotoran jiwa, kebodohan dan ketidaktahuan manusia. Dengan pengetahuan, maka setiap orang akan melihat jalan yang terang dan bersih di dalam hidupnya. Namun di Bali,  di mana segala sesuatu diterjemahkan ke dalam  “Art, Shape and Symbol”, pembasuhan terhadap segala kebodohan, kegelapan dan  kekotoran ini pun diterjemahkan secara sekala dan niskala. Secara fisik dan non fisik. Selain melakukan persembahyangan dan doa untuk memohon kebersihan pikiran dan hati, maka berbagai acara pembersihan ‘fisik’pun dilakukan juga.

Salah satu ritual yang  banyak dilakukan hari ini adalah ritual pembersihan dan proses pewangian badan alias “Body Scenting”. Mulai dari pembersihan standard hingga ritual pembersihan dan pewangian  badan. Dari ujung rambut ke ujung kaki. Dan tentu saja, hari ini menjadi hari yang sangat istimewa bagi para wanita di Bali. Terutama bagi ibu-ibu yang punya anak gadis.

Yeh Kumkuman

Mandi dan keramas di pagi hari dengan menggunakan Yeh Kumkuman atau Toya Kumkuman  merupakan hal yang paling menyenangkan. Yeh Kumkuman adalah air  wangi hasil rendaman bunga- bunga selama semalam. Saya ingat ketika kecil, ibu saya selalu membuat Toya Kumkuman ini untuk mandi dan keramas. Mungkin cara pembuatannya berbeda-beda. Namun ibu saya biasanya membuatnya dengan cara mengasapi periuk tanah dengan asap pembakaran wewangian baik dari  kayu-kayuan maupun mineral, seperti kayu cenana (cendana, sandalwood), menyan, majagau (kayu gaharu, oud), akah wangi (vetiver) dan sebagainya. Dengan demikian, diharapkan semua bakteri di dalam periuk tanah itu akan mati. Dan wangi yang terbawa uap dan asap itu masuk ke dalam pori-pori tanah liat itu. Sehingga keharuman kayu-kayuan itupun tersimpan di dalamnya.

Berikutnya ibu saya akan memasukkan air  ke dalam periuk itu.  Lebih disukai air yang diambil dari mata air di Anakan, Yeh Sutera atau  Yeh Bulan. Berikutnya dimasukkan berbagai jenis bunga Sekar Rampai ( bunga-bunga wangi) seperti cempaka, kenanga, siulan, pudak, mawar,anggrek linjong, irisan pandan arum dan sebagainya).  Bunga-bunga ini dibiarkan terendam semalam dan besok paginya Toya Kumkuman ini sudah siap digunakan untuk membersihkan diri. Mandi dengan air rendaman bunga-bunga harum ini membuat kulit dan setiap helai rambut kita menjadi terasa sangat bersih dan wangi.

Dudus Arum.

Medudus atau meratus. Juga merupakan rangkaian kegiatan para wanita di Bali pada Hari Banyu Pinaruh ini. Medudus adalah kegiatan mengasapi diri dengan asap wangi hasil pembakaran mineral dan kayu-kayuan yang wangi seperti cendana, gaharu, menyan dan sebagainya. Dengan harapan agar wewangian ini masuk ke dalam pori-pori kulit kita dan tertinggal di sana cukup lama, sehingga tubuh kitapun menebarkan wangi yang lembut. Kompyang (nenek buyut) saya yang memelihara saya sejak kecil, selalu mengajarkan saya medudus dengan cara menempatkan anglo pembakaran di dalam kurungan ayam yang bersih, lalu meminta saya untuk menebarkan rambut saya di atas kurungan ayam itu untuk diasapi agar wangi. Proses pendudusan itu biasanya dilakukan dengan cara menutup kamar rapat-rapat, agar wanginya tidak keluar kamar. Namun yang didudus sebenarnya bukan hanya rambut. Seluruh badan dan daerah kewanitaanpun didudus /diratus pada saat itu. Dudus ini dipercaya dapat mencegah keputihan, gatal gatal dan bau kurang sedap pada daerah kewanitaan.  Namun tentu saja ditambahkan bahan bahan tertentu untuk memberikan ‘nilai’ lebih pada daerah kewanitaan. Sehingga  ratus vagina itupun sering disebut dengan dudus rapet arum kalau di Bali.  Tentu saja saya tidak mengerti kegunaannya waktu kecil. Saya pikir wangi, ya..saya ikut-ikut saja. Bagaimanapun juga, punya badan wangi hingga ke pori-pori kulit tentu sangat menyenangkan.

Boreh Miyik.

Sebenarnya sebelum mandi dan keramas dengan menggunakan toya kumkuman dan medudus, banyak juga yang sebelumnya menggunakan perawatan dengan Boreh Miyik. Mungkin kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia itu maksudnya Krim Wangi atau Lulur Wangi. Karena Boreh Miyik ini dioleskan diseluruh badan, didiamkan sejenak hingga setengah kering, lalu digosok-gosokan. Gunanya tentu untuk membantu agar kulit menjadi bersih, halus, lembut dan wangi. Kompyang saya biasanya membuat boreh miyik ini dengan bahan dasar beras yang dicampur dengan rempah-rempah, bunga  dan wewangian. Tampangnya tentu tidak terlalu meyakinkan. Namun demikian,kami semua percaya akan hasilnya.

Lengis Cemceman

Lengis atau minyak cemceman adalah campuran minyak kelapa dengan bunga rampai yang digunakan untuk menghitamkan dan sekaligus mewangikan rambut. Rambut wanita yang habis dikumkum dan diratus lalu diusap dengan lengis cemceman akan menebarkan harum hingga berhari-hari lamanya.

Loloh

Ada berbagai jenis loloh atau minuman kesehatan yang biasa diminum di Bali. Sangat mirip dengan jamu, manfaatnya pun bermacam macam. Ada yang untuk mencegah atau mengatasi penyakit tertentu, ada juga yang digunakan untuk sekedar menjaga kesehatan atau meningkatkan stamina tubuh. Dan tentunya ada juga yang dimanfaatkan untuk mencegah bau badan ataupun membuat badan dan keringat kita tetap wangi. Contohnya adalah Loloh daun Beluntas, di Bali digunakan untuk mengatasi ketiak yang bau. Loloh daun Sirih dan Kunyit yang bersifat antiseptik diyakini dapat menghilangkan keputihan dan mengharumkan areal kewanitaan. Namun untuk membuat keringat kita tetap wangi cukup dengan meminum air rebusan daun Pandanarum.

Semua perawatan di atas dilakukan oleh kebanyakan para wanita di Bali pada Hari Banyu Pinaruh ini. Kangen akan suasana itu, maka pagi inipun saya jadi kepikiran ingin melakukan ritual itu. Kangen akan ibu saya. Dan kangen akan Kompyang saya.

Body Scenting!. Entah sudah berapa lama saya tidak pernah ingat merawat diri saya sendiri. Hari Banyu Pinaruh ini seperti mengingatkan saya kembali akan nilai-nilai tradisional  Bali yang mulai  jarang saya terapkan dalam hidup saya. Beruntung ada seorang teman yang membuat saya jadi teringat kembali…

15 responses »

  1. Oh Bali yg agung dengan budaya dan filosofinya. Mewangikan badan jg ada di minangkabau Mbak, tp untuk wanita yg baru melahirkan saja. Dalam banyu pinaruh apakah lelaki jg melakukan body scenting?

  2. lengkap banget ya Mbak, harus sabar mengerjakAn ini semua ya
    aku dulu cuma pernah mandi dengan air kembang pada pagi sebelum sholat Id, opungku yang nyiapin

    • Sebenarnya sih nggaks emua ritual itu dilakukan oleh orang yang sama pada hari yang sama. Cuma segelintir orang yang melakukan semnuanya. Yang hampir semua orang lakukan adalah keramas yeh kumkuman. Atau kalau nggak keramas yeh kumkuman _ medudus ..atau yeh kumkuman + loloh.. dst..

  3. Pingback: Akan Jadi Buyut ? « Kisahku

  4. Woo komplit sekali dari pembersihan luar hingga dalam, belum lagi tentunya diiringi dengan rangkaian doanya. Satu paket komplet banyu pinaruh perlu waktu berapa lama ya Jeng Ade?

    • Habis waktu seharian itulah Bu.. he he.
      Tapi karean ini kan bukan aktifitas wajib.. cuma suka suka orang saja Bu.. jadi ada yang cuma melakukannya dengan keramas yeh kumkuman saja, ada yang medudus.. atau gabungan 1-2 – jarang sekali yang sempat melakukan semuanya..

  5. Yeh kumkuman, dudus arum, boreh miyik, lengis cem-ceman dan loloh ini ternyata nama perawatan tubuh ya mbak…duh, baru tau…
    Kebetulan saya juga kurang telaten merawat badan biar harum…hehe, jadi selain mandi dan keramas tiap hari, tidak ada lagi perawatan tubuh yang rutin saya lakukan.
    Tapi membaca penjelasan mbak tentang wangi-wangian yang terbuat dari aneka bunga dan kayu cendana ini, saya jadi pengen nyoba lo, lebih seneng kalo ada yang ngebikinin soalnya saya juga nggak telaten kalo disuruh buat sendiri…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s