Yogyakarta, I Love You…

Standard

20150410_1739221Yogyakarta! Adalah salah satu kota yang sangat saya sukai. Karena di kota ini, kebudayaan masa lalu yang gemilang masih tetap bisa kita rasakan dan nikmati di mana-mana, walaupun modernitas dan perkembangan teknologi juga tetap berlangsung seiring. Aksara Jawa masih bisa kita lihat dan baca di sudut-sudut kota, walaupun huruf Latin tentu saja mendominasi. Setidaknya saya melihat ada upaya pemerintah dan penduduk setempat untuk menjaga dan tidak membuang begitu saja apa yang sudah menjadi sebuah ‘achievement’  leluhurnya dalam dunia sastra.

Batik

Walaupun dalam kunjungan yang lalu ke kota ini, saya tidak sempat melihat-lihat lebih jauh – gara-gara kaki saya keseleo hingga tak sanggup berjalan -, namun saya tetap bisa merasakan suasana Yogyakarta disajikan di hotel tempat saya menginap, lewat makanan yang terhidang, musik yang diperdengarkan ataupun pernak-pernik yang dipajang.Sehingga ketika saya pulang kembali ke Jakarta, saya sadar betul jika saya baru saja kembali dari kota Yogyakarta.

 

Patung Loro Blonyo – saya sangat sering melihat patung  pasangan ini. Ada berbagai ekpressi dan gaya dari Patung Loro Blonyo yang pernah saya lihat. Namun, saya belum pernah melihat yang model bergaya sederhana seperti yang ditunjukkan dalam patung ke dua yang saya temukan seperti di atas. Menurut cerita, loro blonyo adalah bentuk symbol, perlambang kesuburan yakni Dewi Sri -Sedana yang merupakan Dewi/Dewa Kesuburan dan Kemakmuran. Melihat itu saya merasa ada banyak sekali kearifan dan kedalaman filosofi  dari setiap lambang dan symbol budaya yang terlihat di permukaan.

Rempah-rempah di Yogyakarta, juga mengingatkan saya akan perawatan wanita yang mencapai tingkat yang sangat membanggakan.  Sementara kita di kota sibuk mencari kearifan dari bangsa lain untuk perawatan tubuh kita, sesungguhnya tanpa kita sadari para leluhur kita telah menemukan rahasianya dari alam kita sendiri yang tentunya lebih sesuai dengan tubuh dan kondisi cuaca di negeri tropis kita ini.  Di Yogyakarta, kita mudah menemukan ini.

Sayup-sayup saya mendengar gendhing didendangkan dengan lembut oleh seorang pesinden….

Yan ing tawang ono lintang,  Cah Ayu. Aku ngenteni tekamu. Marang mego ing angkoso, Ni Mas. Sun takoke pawartamu. Janji janji aku eling, Cah Ayu. Sumedhot rasaning ati. Lintang-lintang ngiwi-ngiwi, Ni Mas. Tresnaku sundul wiyati.

Dek semono, janjimu  diseksesni. Mego kartiko kairing roso tresno asih

Yen ing tawang ono lintang, Cah Ayu. Rungokno tangis ing ati. Binarung swaraning Ratri, Ni Mas. Ngenteni bulan ndadari.”

Ah…..dendang cinta yang sangat romantis dan melankolis. Yang meluluhkan hati siapapun pendengarnya.

Yogyakarta, saya ingin kembali!.

 

 

 

 

17 responses »

    • He he..aku juga bukan orang yang berbahasa Jawa. Tapi karena Bahasa Jawa kurang lebih mirip dengan Bahasa Bali, jadi menurutku artinya kira-kira terjemahan bebasnya kaya gini:
      Saat di langit ada bintang, sayang. Aku menanti kedatanganmu.Pada awan di angkasa,aku mencari berita tentangmu.
      Janji-janji aku ingat, sayang. Tersedot rasanya di hati. Bintang-bintang berkerlip. Betapa murninya cintaku padamu.Terkenang saat itu, janjimu akan selalu kuingat. Awan dan bintang seolah menjadi saksi cinta kasih kita. Saat di langit penuh bintang, sayang. Dengarlah tangisan dalam hatiku. Bersama suara malam, sayang. Menunggu bulan Purnama.

      he he..kira-kira begitu kalau orang Bali menjadi penterjemah Bahasa Jawa… he he..berharap ada orang Jawa yang memberi koreksi atau masukan jika berkenan..

  1. Kepekaan jiwa seni Jeng Dani memampukan menikmati keelokan yang disajikan lewat aneka pernik simbol, Pantesan KLA menyanyi …Pulang ke kotamu. Ada setangkup haru dalam rindu…..
    Salam

  2. Sayapun terbiasa mengikuti apa yang ditanamkan orang tua, bahwa untuk menjaga kebugaran tubuh cukup minum jamu yang diracik dan diperas maupun diolah secara langsung. Bahkan kalo pulang kampung, tanaman empon empon karang kitri sudah siap sedia di sekitar rumah. Dan tanpa obat kimiawi, cukup herbal di sekitar kita dengan ramuan warisan nenek moyang ternyata membuat keluarga saya lebih sehat

    • Bagus sekaliPak Ies masih meneruskan tradisi bagus yang dimiliki leluhur. jaman sekarang kayanya sudah mulai sangat jarang Pak yang mau dan bisa memahami jamu dan obat0obatan traditional… bahkan mencari orang yang punya pohon sirihpun sekarang sudah sulit.. Bangga sama Pak Ies.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s