Sepotong Chocolate Cookies Yang Tersisa.

Standard

 About Excellence .

 

Larut malam dari sebuah hari yang melelahkan. Penuh jadwal meeting dan deadline yang seolah berlomba menghadang. Saya bergegas pulang agar bisa segera mandi menyiram segala kepenatan dan  menemani anak saya belajar. Setelah itu sayapun segera tidur memeluk anak saya. Rasanya hanya sebentar,karena pagi kemudian segera tiba. Kembali lagi saya bergegas. Membangunkan anak-anak, memastikan mereka mandi dengan bersih, berpakaian rapi dan membantu segala persiapannya masuk ke dalam tas,mengantarkannya sampai di pagar. Karena waktu tak mencukupi, maka anak-anak sarapan pagi di kendaraan aja. Berikutnya saya perlu menyiapkan diri saya untuk berangkat ke kantor. Menyiapkan bekal makan siang untuk suami dan diri saya sendiri. Begitulah rutinitas hari kerja yang terkadang agak membosankan. Seperti hari ini.

Saya tiba di kantor sedikit agak kesiangan. Meletakkan tas tangan saya di atas meja samping, lalu membuka laptop. Sambil menunggu system bekerja, saya memeriksa dan menandatangani beberapa dokumen yang menumpuk di atas meja. Tiba-tiba pandangan saya tersangkut pada sebuah bungkusan chocolate cookies yang tertutup rapi diatas meja saya. Itu sisa cookies kemarin!. Tidak  sempat saya habiskan karena sudah terlalu malam. Rupanya Office Boy merapikannya dan berinisiatif menjepretnya dengan stapler untuk mencegah cookies itu masuk angin. Dengan demikian maka ia tetap  renyah.

Saya tertegun dibuatnya. Office Boy itu telah melakukan pekerjaan lebih dari apa yang diminta. Sebenarnya bisa saja ia membuang sisa Cookies yang cuma sepotong itu. Namun tidak ia lakukan.Ia merapikannya dan meletakkannya kembali di atas meja saya. Dan lebih dari itu ia menutup kemasannya dengan  bantuan stapler, sehingga tidak layu. Mengapa ia melakukannya? Padahal tidak ada yang meminta ia melakukan itu?. Jikapun ia membuangnya ketempat sampah, toh tidak ada seorangpun yang melihat juga. Saya sangat terkesan olehnya. Excellent! Sebuah inisiatif yang datang dari dirinya sendiri untuk melakukan “excellence job” tanpa mempertimbangkan apakah orang lain melihat atau tidak. Ia melakukannya untuk kepuasan dirinya.

Melihat kejadian itu, saya jadi teringat akan sebuah cerita  tentang seorang seniman patung yang dituturkan oleh seorang atasan saya :

Alkisah seorang pria berkunjung ke sebuah temple yang sedang direnovasi, dimana ia melihat seorang seniman sedang  asyik membuat sebuah patung. Tiba-tiba ia melihat ternyata ada lagi sebuah patung serupa yang tergeletak di sebelahnya. Karena heran, maka iapun bertanya kepada seniman itu : “ Apakah anda memang membuat 2 buah patung yang sama?

“Tidak” Jawab seniman itu.  “ Kami  hanya membutuhkan sebuah patung, tapi sayangnya patung yang pertama itu agak cacat saat hampir selesai”.Pria itupun memeriksa patung pertama yang dimaksud dan tidak menemukan ada sesuatu yang salah dengan patung itu. “Bagian mana sih yang cacat?” Tanyanya. “ Ada goresan di hidung patung itu”  Kata sang seniman , masih sambil sibuk dengan patungnya yang baru.

Oh, Oke. Memang patungnya mau diletakkan di mana? “ tanya pria itu lagi dengan penasaran. Seniman itu mengatakan bahwa patungnya nanti akan diletakkan di atas pilar yang tingginya sekitar 65 meter.

Wowo ..Patung itu tempatnya akan sangat tinggi sekali. Memang siapa yang akan tahu kalau ada goresan di hidungnya?” tanya pria itu lagi. Seniman itu berhenti bekerja,menatap pria itu dan tersenyum “ Saya yang akan tahu!”.

Cerita itu ditutup oleh atasan saya dengan kalimat –

The desire to excel is exclusive of the fact whether someone else appreciates it or not. “Excellence” is a drive from inside, not outside. Excellence is not for someone else to notice but for your own satisfaction and excellence.

Sebuah cerita yang sangat mengesankan saya dan meng’encourage’  saya  yang mendengarkan untuk melakukan hal yang serupa. Melakukan sebuah pekerjaan dengan sebaik-baiknya, bukan karena didorong orang lain. Namun untuk kepuasan diri kita sendiri. Bahkan pun jika tidak ada yang tahu dan tidak ada yang memuji,  kita tetap melakukan yang terbaik. Seperti seniman itu. Seperti Office Boy itu.

Kisah tentang seniman patung dan  kelakuan Office Boy pagi ini benar-benar mencerahkan hari saya. 

9 responses »

  1. Melakukan pekerjaan kita sendiri semaksimal mungkin ya mbak. Senang sekali masih ada OB yang berinisiatif begitu, jadi tidak seperti robot yang bekerja hanya sebatas manual.

  2. Dan terkadang yang namanya “inisiatif” itu seperti bawaan sejak bayi yang nggak bisa dipelajari…
    Seseorang punya inisiatif tinggi atau rendah tidak berbanding lurus dengan tingkat pendidikannya.
    Contohnya ya Si OB tadi

  3. Sikap dari si office boy patut di acungi jempol…
    Begitupula dengan seniman yang mau bersikap jujur.
    Tetapi saya sangat menghargai sikap dari mbak sri yang bijaksana mengikuti sika kedua orang tersebut… Malah membagi kisah ini kepada pembaca…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s