Gossip! Jangan Cerita Kepada Siapa-Siapa Ya…

Standard

KenyiriSeorang teman bercerita kepada saya betapa kesalnya ia digossipkan oleh orang-orang di lingkungannya. “Kalau memang perhatian, mengapa tidak bertanya ke aku, kok malah bercerita kepada orang-orang lain.” Keluhnya. Walaupun saya tidak tahu detail, apa yang sedang digossipkan orang-orang tentang dirinya, saya merasa kasihan mendengarnya.  Saya membayangkan seandainya saya yang menjadi dirinya. Tentu akan merasa sangat tidak nyaman.

Gossip!. Terlepas dari benar-atau tidaknya, selalu menggelitik keingintahuan. Karena pada dasarnya, manusia adalah mahluk yang dibekali ‘curiousity’ yang tinggi. Kaypo! Pengen tahu!. Selain pengen tahu, manusia adalah mahluk sosial. Yang jika memiliki sesuatu (berita), maka ingin secepatnya berbagi dengan orang lain.

Demikianlah proses gossip terjadi. Kalau saja kita tidak menyadari bahwa bergossip itu adalah perbuatan yang kurang baik, tentu kita semua akan sangat suka bergossip. Termasuk saya, tentunya. Namun, karena ajaran, berbagai kejadian dan pengalaman hidup membuat banyak orang akhirnya justru menghindarkan diri dari bergossip. Sayapun meminta teman saya itu untuk tidak usah bercerita lagi kepada orang lain. Karena orang lain belum tentu menolong. Selain itu menceritakan kekesalan hati berulang kali bukannya menyembuhkan, namun justru menambah kesal. Lebih baik cari pemecahan masalahnya dan kalau perlu klarifikasi untuk menghentikan gossip yang beredar.

Mendengarkan Gossip.

Seringkali kita tak mampu menghindarkan diri dari mendengarkan gossip. Misalnya jika  gossip  itu berawal dari curhat biasa seorang teman. Si A mengeluh bahwa ia diperlakukan begini oleh Si B.  Lalu mulai menceritakan kesalahan yang dilakukan oleh si B yang kemudian berkembang menjadi gossip.

Pengalaman saya mengatakan, jika mendengarkan curhat seperti ini biasanya kita cenderung akan  bersimphaty kepada pencurhat.  Kita juga cenderung akan mencocok-cocokan apa yang ia katakan dengan pengalaman kita sendiri. Dan … terbawa ikut berpikir negative, lalu mengiyakan apa yang dikatakan oleh si pencurhat.

Padahal kita baru mendengar sepihak dari sudut pandang si pencurhat, yakni Si A dan belum mendengar dari sudut pandang yang sebaliknya – yaitu Si B.  Bagaimana jika yang bercurhat-ria adalah Si B? Barangkali simphaty kitapun akan lebih tertuju kepada Si B dan bukan kepada Si A?

Lebih parah lagi, terkadang kitapun ikut terpancing menceritakan sedikit kejelekan yang kita ketahui tentang orang yang bersangkutan kepada si pencurhat, yang mengakibatkan masalah sepele itu kemudian menjadi besar dan berkobar.  Tanpa kita sadari, kitapun jadi ikut terlibat dalam lingkaran gossip itu.

Saya pernah mengetahui sebuah kejadian seorang teman. Sebutlah namanya Si C yang tadinya hanya bertindak sebagai pendengar curhat, ikut  terpancing sedikit mengemukakan pendapatnya yang negative terhadap orang lain.  Namun sungguh aneh!. Cerita si C  justru yang merebak kemana-mana dan menjadi tajuk berita. Akhirnya ia menjadi tertuduh sebagai pelaku gossip. Padahal Si C hanya bercerita 5% saja, sementara si pencurhat yang bercerita 95% kejelekan orang tidak terpublikasi.

Mengingat itu, maka saya  selalu berusaha berhati-hati  mendengarkan  curhat dan gossip.  Berusaha menahan diri agar jangan sampai ikut terbawa  berpendapat buruk yang belum tentu benar.  Terutama jika yang curhat adalah orang yang belum saya percayai dan kenal dengan baik.

Gossip Bekerja Melebihi Kecepatan Suara.

Teringat cerita dari suami saya. Pernah suatu masa di kantornya banyak sekali gossip yang beredar. Tembok dan langit-langit kantorpun terasa bertelinga dan berlidah. Apapun curhat yang disampaikan, pasti sampai ke telinga orang banyak dengan sedemikian cepatnya. “Melebihi kecepatan suara.”istilahnya.

Suami saya mengidentifikasi seorang rekan kerjanya yang sangat hobby bergossip. Ia sebut sebagai Biang Gossip. Namun yang bersangkutan tidak pernah mau mengaku dan merasa dirinya bukan biang gossip seperti yang dituduhkan orang.  Karena tetap tidak mau mengaku, suami sayapun mengarang sebuah berita bohong bahwa dirinya akan resign dalam waktu dekat . Berita karangan itu hanya ia ceritakan kepada si Biang Gossip dan tidak kepada orang lain. Diawali dengan kata khas cerita gossip “Eh..tahu nggak? “ dan disertai dengan pesan penutup  “Jangan bilang-bilang ya…”.

Tujuannya untuk membuktikan bahwa dialah si Biang Gossip dan sekaligus untuk mengukur kecepatan gossip berkembang di gedung kantor itu. Benar saja, hanya dalam hitungan  lima menit,  seorang rekan di department lain yang cukup dekat dengannya menelpon dan bertanya, apakah benar ia akan resign dari perusahaan dalam waktu dekat. Ha ha ha..

Perilaku Yang Bernilai Berita.

Gossip adalah berita kasak kusuk yang tidak diketahui kebenarannya. Gossip akan merebak dengan baik, jika memiliki NILAI BERITA. Dan Nilai Berita erat kaitannya dengan perilaku yang luar biasa..alias diluar kebiasaan umum.

Misalnya, saya ambil contoh di kantor – perselingkuhan dengan rekan kerja, akan sangat mudah sekali dijadikan bahan gossip. Mengapa? Karena seperti kata pepatah, saat kita jatuh cinta “Dunia  terasa hanya milik kita berdua”. Kita tidak sadar bahwa setiap gerak-gerik kita, tatapan mata kita, senyum kita dan sebagainya diamati oleh orang sekantor. Karena pandangan kita berfokus hanya pada si dia, kita pikir orang lain tidak tahu.  Bagaimanapun kita berusaha keras untuk menutup-nutupi, orang lain tetap akan membaca.  Mungkin banyak yang pura-pura tidak tahu, atau tidak perduli, tapi sebenarnya mereka tahu.

Dan jatuh cinta membuat “Tai kucingpun rasa coklat”.  Oleh karenanya kita akan semakin bertindak aneh menurut takaran umum. Kita akan cenderung memberi fasilitas lebih dan memberikan perlakuan istimewa kepada si dia. Sementara kepada yang lain, tidak. Dan bagaimanapun kita mencoba mengalihkan perhatian orang dengan mencoba juga memberikan perhatian yang setara (menurut kita) kepada yang lainnya, tetap saja orang lain akan bisa membaca bahwa itu berbeda. Orang justru akan melihat kita berpura-pura dan membaca strategy pengalihan perhatian itu.

Mengapa begitu? Karena sebagian besar orang di usia kerja, sudah pernah jatuh cinta. Dan mereka bukan orang bodoh. Tentu saja tidak bisa dibohongi.

Demikian juga kelakuan lain yang tidak umum, seperti  misalnya berpakaian yang kurang biasa, korupsi, kong kalikong, memberikan bisnis kantor dengan teman atau kerabat kita (nepotisme)dan sebagainya.  Semuanya akan mudah memancing pembicaraan orang. Sebaliknya jika kita bertindak biasa-biasa saja, bersih dan tidak ada sesuatu yang ditutup-tutupi, tentu tidak akan memancing orang membicarakan diri kita.

Menghindarkan diri untuk berprilaku yang berbeda dengan norma umum, akan sangat membantu kita untuk tidak dijadikan sasaran gossip.

11 responses »

  1. Saya juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan suami Mba Made. Dan bener loh, karena saya ngomongnya ke biang gosip ga sampe 5 menit ada orang petugas anter surat yang jauh banget hubungannya nanya ke saya apa saya bener mau resign. Ampun dah.. Hehehehe

  2. beruntung istriku bukan org yg gampang bergossip ria baik di kantor/rumah..

    didlm ajaran sya, org2 yg spt itu layaknya seseorang yang memakan bangkai saudaranya sendiri..

  3. Bahan gossip jarang yang bagus. Jadi kebanyakan adalah sisi buruk dari seseorang. Terlepas apakah fakta atau fiksi, gossip memberi pesan bahwa kita suka mengetahui keburukan seseorang..:)

  4. sy kenal cinta sebelum masuk dunia kerja, setelah kerja baru bener2 mengejar cinta. ini bukan gosip loh

  5. Memang gak enak jadi bahan gossip, tapi kalau kitanya cuek, biasanya gossip juga akan berhenti sendiri koq, apalagi kalau yang digossipkan merupakan sesuatu yang tidak betul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s