Mengasah Hati Yang Tidak Peka.

Standard

Kursi PijatDi sebuah bandara International di negeri tetangga, terdapat 4 buah kursi pijat gratis yang difasilitasi oleh pihak bandara. Kursi pijat yang saya maksud adalah yang serupa dengan yang bertebaran di mall-mall di Indonesia, yang bisa kita gunakan selama 15 menit dengan ongkos Rp 5 000, 10 000 atau maximum Rp 15 000. Bedanya yang ini gratis.

Kursi itu berada di tempat yang agak sepi dari arus orang yang berlalu lalang. Lokasi yang sungguh nyaman untuk melepaskan penat. Berjajar. Dua di kiri pilar, dan dua lagi di kanan pilar. Sejak lama saya ingin duduk di kursi pijat gratis itu.  Namun sayang, setiap kali saya melintas di sana,  kursi-kursi itu selalu sedang penuh. Sehingga keinginan saya untuk berpijat-ria di sana tak pernah kesampaian. Demikianlah selalu terjadi setiap kali saya transit di bandara itu.

Namun entah kenapa, kali ini saya sangat beruntung. Satu dari empat buah kursi pijat itu, yang berada di kanan tembok sedang sepi. Aha!!! Cepat-cepat saya mendorong troley barang saya ke arah kursi pijat itu. Lalu saya memarkir troley saya tepat di samping kursi pijat itu. Berikutnya saya membuka sepatu saya. Memasukkan kedua betis saya kedalam celah pijat yang dilapisi bantalan yang empuk dan mendaratkan telapak kaki saya pada dasar alat pijat itu. Lalu mulai memencet tombol untuk mengaktifkannya dan memilih intensitas serta jenis pijat yang saya inginkan. Sesaat kemudian alat pijat itu mulai bergerak dan memijat punggung saya, batang leher dan kepala saya dengan konsisten. Demikian juga kaki  dan betis saya. Oahmmm.. nikmatnya.

Lima belas menit berlalu tanpa terasa.  Saya lalu celingak-celinguk untuk melihat, apakah ada orang lain yang ingin dipijat atau tidak? Saya tidak melihat siapapun yang datang untuk mengantri kursi saya.  Saya lalu melanjutkan pijat hingga ke lima belas menit berikutnya.

Lima belas menit kemudian, saya melihat-lihat lagi ke sekeliling. Kelihatannya memang tidak ada yang berminat untuk dipijat. Soalnya tidak ada seorangpun yang datang untuk mengantri!. Wah..asyik! Horeee!. Jadi saya bisa lanjutkan lagi acara pijat-pijatnya. Demikianlah seterusnya sampai 4 ronde. Kalau ditotal menjadi satu jam! Tak ada seorangpun yang muncul.

Tapi saya pikir-pikir, ini sungguh aneh!. Masa sih dari sekian banyaknya orang yang berlalulalang di sana, tidak seorangpun yang berminat untuk memijat kakinya dengan gratis? Saya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Jangan-jangan…??!!. Waduuuh..perasaan kurang enak melintas di dada saya.

Jangan-jangan orang ogah mendekat gara-gara melihat kursi pijat itu sedang penuh diisi orang lain, termasuk saya sendiri.  Saya jadi membayangkan seseorang yang sangat kelelahan kakinya karena perjalanan jauh atau karena habis shopping-shopping dan pengen dipijat. Namun mengurungkan niatnya gara-gara melihat saya masih duduk menguasai kursi pijat itu. Lalu saya bayangkan lagi orang itu bolak-balik dan melihat dari kejauhan dan melihat saya masih tetap saja duduk di kursi itu. Bagaimana ya perasaannya? Bagimana ya kalau saya yang menjadi dia? Waduuuh! Memikirkan iu, rasanya saya seperti tersengat listrik.

Jangan-jangan banyak orang kelelahan saat ini yang sedang memantau saya dan kursi pijat yang sedang saya duduki dari kejauhan.

Jangan-jangan jika saya berhenti dan segera pergi dari kursi pijat itu, barulah orang-orang yang kelelahan itu mendekat.

Jangan-jangan saya memang mahluk yang sama sekali tidak peka dan paling egois di muka planet ini. Oops!

Memikirkan itu akhirnya dengan bergegas saya memakai kembali kaos kaki dan sepatu saya, lalu segera  menjauh.

Setelah agak jauh, lalu saya menoleh kembali ke kursi pijat itu. Seorang bapak-bapak mendekati kursi pijat yang saya duduki dan bersiap untuk segera mengoperasikan mesin itu. Hhhhhhh… saya menarik nafas saya panjang-panjang. Ternyata apa yang saya khawatirkan benar adanya!. Perasaan malu dan bersalah menyakiti dada saya. Betapa tidak pekanya hati saya. Penuh keegoisan dan keinginan hanya untuk menyenangkan diri sendiri serta mengabaikan hak orang lain.  Namun ada sedikit rasa lega karena akhirnya saya telah melakukan keputusan yang benar untuk segera bergantian menggunakan fasilitas umum itu.

Pelajarannya kali ini buat diri saya adalah bahwa berempati kepada orang lain dan  membayangkan jika kita yang berada di posisi orang lain itu, akan sangat membantu kita mengasah kepekaan hati nurani agar terbebas dari keinginan untuk menyenangkan diri sendiri tanpa memperdulikan hak orang lain. Sambil mendorong troley, saya berpikir akan membuat catatan pengingat di buku harian saya :

Fasilitas umum!. Gunakanlah dengan bijak! Dan berbelas-kasihanlah kepada orang lain yang perlu menggunakannya lagi setelah kita!.

10 responses »

  1. Bener juga Mbak Made ya, tidak ada orang berarti tidak ada yang menunggu.Unlike what we have here, orang di negara lain mungkin saja berpikir selama kita belum pergi dari situ berarti kita masih membutuhkan.Nice point Mba Made, tfs.🙂

  2. aku jg gt kok mbak. kalo sudah 2x transaksi di ATM (misal: tarik tunai dilanjut bayar tagihan), selalu noleh ke belakang untuk lihat: ‘Ada yg antre gak ya?’ kalo sudah ada yg antre, lalu lgsg aku slesaikan urusanku di ATM dan klo emg masih perlu bertransaksi, ya antre lagi dr belakang. walo klo ga salah, maksimalnya sih 3x transaksi sekali antre (klo menurut papan peringatan yg pernah aku baca di sebuah ATM).

  3. Kadang saya juga kalau liat yang gratisan itu mendekat, tapi kalau penuh ya nunggu dari kejauhan. Nunggu sampai ada yang kosong baru mendekat. Saya kadang sungkan untuk mendekat karena takut yang saya dekati merasa “terusir”.

  4. Suka banget sama statement yang terakhir. Kita bisa berempati dengan orang lain jika kita memposisikan kita seperti orang tesebut. Btw, khas Indonesia banget ya, kalo gratisan maunya lagi..lagi..😀

  5. iya mungkin mbak…, yg pengen ke kursi pijat itu nggak nunggu dekat2…, malu mungkin
    kitanya aja yg perlu sadar diri…
    tapi apa malah nggak sakit dipijet sekian lama …?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s